Pengikut

Jumat, 06 Mei 2011

38 Ha Lahan Petani Gagal Panen



Terkait Masalah Banjir

Illustrasi
JAMBI - Akibat hujan yang mengguyur, sekitar 38 Hektare lahan petani di Provinsi Jambi dipastikan gagal panen. Ini diakibatkan lahan petani di beberapa kabupaten terendam banjir. Abu Sucamah, selaku Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jambi, di temui diruang kerjanya kemarin (05/05) mengiyakan hal tersebut. Ia menjelaskan 38 hektar lahan pertanian tersebut berada di kawasan yang langganan banjir.
“Itu baru laporan yang masuk pagi tadi (kemarin-red),” ujarnya.
Ia mengatakan 38 hektare lahan pertanian yang terendam banjir itu, masing-masing berada di Kabupaten Kerinci dan Merangin. Lahan tersebut terdiri dari, 10 hektar kawasan pertanian padi kabupaten Merangin. Sedangkan di Kerinci terdiri dari 15 hektar area pertanian cebe rawit, 12 hektar tanaman padi dan 1 hektar kolam ikan.
“Untuk di kabupaten Kerinci, statusnya sudah Fuso atau tidak bisa digunakan lagi, artinya petani harus menanam ulang lahanya ketika air sudah surut, Sedangkan di Merangin belum dikatahui pasti,” terangnya.
Ia memperkirakan dari banjir tersebut diperkirakan telah merugikan petani jutaaan rupiah. Setiap hektare, lanjutnya, diperkirakan menghasilkan sekitar 25 kilogram benih. Satu kilonya diasumsikan sebesar Rp 6 ribu rupiah. Artinya kerugian ditaksir mencapai Rp 5,7 juta.
Ia mengungkapkan, setiap kabupaten di Provinsi Jambi memang mempunyai kawasan yang rawan banjir. Selain di dua kabupaten tersebut, jelasnya, Sarolangun, Tebo, Bungo, Batanghari, Muaro Jambi, Tanjabbar dan Tanjabtim juga sering terkena banjir.
“Kalau di Sarolangun seperti di Kecamatan Air Hitam,” katanya.
Apalagi, lanjutnya, dikarenakan setiap lahan pertanian mempunyai area bendungan air. Jika bendungan itu meluap, tentunya air akan menggenangi area pertanian.
“Inikan faktor cuaca alam, tidak bisa dihindari,” ujarnya.
Biasanya, jelasnya, jika lahan pertanian hanya terendam air kurang dari tiga hari, lahan tersebut masih bisa dipanen seperti biasanya. Namun jika sudah lewat dari tiga hari, dipastikan lahan tersebut tidak bisa dipanen
”Lewat dari tiga hari statusnya fuso, tidak bisa dipanen lagi,” tukasnya.
Ketika ditanya cara mengantisipasi persoalan tersebut, menurutnya hal ini sudah biasa terjadi. Pihaknyapun sudah mempunyai antisipasi untuk mengatasinya. Distan, jelasnya, siap memberikan bantuan benih kepada petani yang mengalami kerugian akibat lahan terendam banjir. Pihaknya menghimbau kabupaten kota segera mendata petani yang lahannya terendam banjir. Silahkan ajukan bantuan benih ke Distan Provinsi, selanjutnya akan diproses dan di ajukan ke menteri pertanian.
“Prosesnya tidak lama, nanti kita akan ajukan melalui program cadangan benih nasional (CBN),” pungkasnya.
(yos)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar