Pengikut

Kamis, 07 April 2011

Hari Air Sedunia 2011, “Water for Cities, Responding to The Urban Challenge“*

“Sungai Brantas sebagai salah satu sumber air dan pengairan di Kabupaten Jombang”
Air merupakan kebutuhan yang sangat esensial bagi kehidupan makhluk hidup. Namun, apakah kalian tahu seberapa penting air bagi kehidupan manusia? Berdasarkan pernyataan dari para ahli, manusia tidak akan bisa bertahan hidup selama 3 hari tanpa air dan tubuh manusia mengandung sekitar 75% sampai  80% air. Jadi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika di bumi ini tidak ada air lagi?
Isu tentang pentingnya air bagi kehidupan ini merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian dunia. Salah satu buktinya adalah ditetapkannya tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. Hari Air Sedunia ini dicetuskan pertama kali saat digelarnya United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Pada Sidang Umum PBB ke-47 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 1992, keluarlah Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air Sedunia setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini mulai dirayakan pertama kali pada tahun 1993. Penetapan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia ini merupakan suatu langkah awal bagi timbulnya berbagai gerakan perlindungan sumber daya air di seluruh belahan dunia.
Pada tahun 2011, tema yang diangkat pada peringatan Hari Air Sedunia atau World Water Day adalah “Water for Cities, Responding to The Urban Challenge“. Dari tema ini, dapat dilihat bahwa isu penting yang ingin dibawa ke ranah publik oleh PBB adalah isu yang berkaitan dengan ketersediaan air di daerah perkotaan dan berbagai tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan urbanisasi.

Indonesia yang disebut sebagai negara dengan sumber daya air melimpah, ternyata juga masih mengalami persoalan terkait air. Kebutuhan masyarakat akan air bersih yang cenderung meningkat, tidak diimbangi dengan ketersediaan air bersih. Ketersediaan air bersih ini cenderung berkurang akibat berbagai kerusakan alam dan pencemaran. Seperti yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan 100 tahun yang lalu dan ketersediaannya justru menurun. Di Indonesia sendiri, dari 220 juta penduduk, masih ada sekitar 119 juta penduduk  yang belum dapat mengakses air bersih. Hal ini sungguh ironis bukan? Hampir 54% penduduk Indonesia belum dapat menikmati fasilitas air bersih ini. (Suara Pembaruan, 23 Maret 2007).
Di daerah perkotaan, berbagai persoalan yang berkaitan dengan ketersediaan air juga menjadi tantangan berat yang harus dihadapi. Harga air bersih yang semakin mahal, jumlahnya yang semakin langka, serta  terjadinya pencemaran air menjadi masalah nyata yang dihadapi penduduk di perkotaan, salah satunya DKI Jakarta. Di DKI Jakarta, hampir 50% warganya belum dapat memanfaatkan fasilitas air bersih. Berdasarkan Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003, kebutuhan air bersih warga Jakarta yang dapat dipenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), diperkirakan baru sekitar 52,13%. (Kompas, 20 Juni 2005). Jombang sebagai salah satu kota juga mungkin akan mengalami masalah yang sama dengan Jakarta. Pertambahan penduduk yang cepat yang tidak diimbangi dengan adanya kesadaran tentang melestarikan air akan membuat kelangkaan air bisa terjadi. Perlu bagi kita untuk bisa menjadi motor perubahan yang men­-drive masyarakat sekitar kita tentang pentingnya menjaga kelestarian air. Di Jombang, air memegang peranan penting mengingat kegiatan ekonomi utama penduduknya adalah di bidang pertanian.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, air merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup, sehingga apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terjadi berbagai dampak pada berbagai sendi kehidupan. Oleh karena itu, pada peringatan Hari Air Sedunia ini, perlu disadari pentingnya tindakan nyata dalam mengatasi permasalahan terkait air ini. Take Action to Save Our Earth. Selamat Hari Air Sedunia.
*Oleh Tika Dwi Tama (Jurusan Kesehatan Masyarakat angkatan 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar