Pengikut

Jumat, 01 April 2011

Krisis Air Bersih, Warga Kupang Minum Air Kapur



Foto: Koran Seputar Indonesia
KUPANG - Krisis air bersih mulai melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mayoritas warga yang selama ini menggunakan sumur bawah tanah sebagai sumber air bersih, mulai mengeluh setelah debit air menurun tajam, bahkan kering.

Kondisi ini, membuat sebagian warga terpaksa mengkonsumsi air berkapur, atau membeli air seharga Rp125.000-Rp200.000 per tangki. "Sumur kami sudah kering. Kalau pun ada air, warna putih seperti susu karena berkapur. Kami tidak mungkin terus menerus konsumsi air berkapur," ujar Nikolaus Lami, warga Kelurahan Oebobo, Rabu (4/11/2009).

Dia berharap, pemerintah membantu menyediakan bak penampung dan mendistribusikan air bersih guna memenuhi kebutuhan warga, sebelum muncul wabah penyakit akibat mengkonsumsi air kotor.

Krisis terparah dialami sedikitnya 5.000 warga Kecamatan Alak. Di wilayah itu, hanya terdapat satu sumur umum. "Kami harus antre sampai dini hari baru bisa mengambil air," ujar Intan, warga Kelurahan Alak. Menurutnya, pemerintah pernah berjanji untuk menyediakan fasilitas air bersih, tetapi sampai saat ini, janji tersebut tidak pernah dipenuhi.

"Kadang-kadang anak kami harus bolos sekolah, karena tidak ada air untuk mandi. Sementara untuk konsumsi rumah tangga, kami harus membeli air mineral setiap hari. Krisis air bersih ini, mulai terjadi awal akhir Oktober lalu," lanjut Intan.

Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Klas II Lasiana Kupang beranggapan, menurunnya debit air bersih di Kupang dan beberapa daerah lainnya disebabkan el nino. Sementara posisi matahari berada tepat di NTT sehingga menyebabkan peningkatan suhu udara yang mencapai 36 derajat celsius.

Walikota Kupang, Daniel Adoe yang dikonfirmasi terkait janjinya saat kampanye untuk menyiapkan sedikitnya 200 sumur bor guna mengatasi krisis air bersih, mengatakan, untuk sementara pihaknya baru berhasil menyiapkan lima sumur bor di lokasi yang paling kritis.

"Untuk membor 200 sumur, bukan hal gampang. Apalagi debit mata air bawah tanah sangat kecil, sehingga tidak mungkin janji waktu kampanye dipenuhi," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar