Pengikut

Rabu, 13 April 2011

Kampung Nelayan BaTam ( kelurahan bagan tambahan ) kel bagan deli kecamatan medan belawan

BAGAN TAMBAHAN (BaTam) – Bagan Deli :
Kampung Nelayan yang Miskin
Di kawasan Teluk Belawan terdapat pemukiman nelayan yang terkonsentrasi di tiga lokasi, yaitu kelurahan Belawan Bahagia dan kelurahan Belawan I – di tepi sungai Belawan, serta di kelurahan Bagan Deli – di tepi sungai Deli.
perumahan1
Ketika mengunjungi perkampungan nelayan Bagan Deli pada tanggal 3 Maret 2009, seorang penduduk membawa kami menyeberang jembatan menuju perkampungan nelayan yang disebut BaTam (Bagan Tambahan). BaTam ini masih merupakan bagian dari Bagan Deli. Dikatakan Bagan Tambahan, karena pemukiman nelayan disini merupakan pemukiman tambahan yang terletak diseberang pemukiman nelayan Bagan Deli. Nelayan membuat pemukiman dilokasi ini atas dasar pertimbangan agar letaknya dipinggir sungai dan dekat dengan laut. Sebenarnya sudah ada kompleks perumahan nelayan yang dibangun pemerintah. Namun letaknya yang cukup jauh dari laut membuat nelayan harus naik angkutan umum atau ojek untuk menuju kelaut, selain nelayan harus meninggalkan perahunya dipinggir sungai jauh dari rumahnya. Hal ini yang membuat nelayan akhirnya meninggalkan perumahan tersebut, dan memilih membangun rumah sendiri ditepi sungai Bagan Deli dekat muara.
Setelah melewati kantor Kepala Lingkungan (RT), kira-kira 100 meter jalan lurus kearah sungai Deli, terdapat jembatan yang menghubungkan perkampungan nelayan Bagan Deli dengan Bagan Tambahan.
bagan-tambahan-9
bagan-deli-2
Dari atas jembatan dapat dilihat beberapa perahu nelayan tradisional parkir di belakang rumah nelayan yang berada di atas bantaran sungai Deli. Tampak beberapa perahu nelayan sedang bergerak menuju muara kearah lautan lepas. Kesan yang tampak jelas dari atas jembatan adalah sungai yang begitu kotor dengan sampah dan perkampungan yang sangat kumuh. Karena letaknya persis diatas bantaran sungai, maka rumah harus dibangun kira-kira 1 meter diatas permukaan air sungai pada waktu surut. Menurut penduduk setempat, pada saat air pasang maka permukaan air dapat naik sampai melebihi 1 meter.
bagan-tambahan-21
bagan-tambahan-23
Lewat jembatan, kami memasuki perkampungan nelayan BaTam. Karena letaknya 1 – 1.5 meter diatas permukaan sungai, maka akses menuju perkampungan berupa jembatan /titi yang terbuat dari kayu. Tiang penyangga terbuat dari batang pohon yang diameternya kira2 5-8 cm. Sedangkan jalan / jembatan dibuat dari kayu pohon dengan berukuran kira2 1 meter x 20 cm dengan ketebalan 5 cm. Jembatan ini sudah banyak yang keropos dan lapuk karena genangan air. Terdapat banyak kayu yang sudah lapuk, sehingga saya harus melangkah dengan sangat hati-hati.
bagan-tambahan
bagan-tambahan-4
Beberapa penduduk mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah setempat atas penderitaan mereka. Jalan jembatan / titi itu dibuat atas swadaya masyarakat setempat tanpa bantuan pemerintah yang konon tak kunjung tiba. Sudah ada beberapa orang terperosok jatuh karena kayu jempatan yang diinjak keropos dan tidak dapat menahan beban diatasnya. Pada malam hari jika air laut pasang dan tinggi air melebihi permukaan titi, tak jarang orang harus merangkak agar dapat meraba papan untuk dilalui demi menghindari resiko terperosok.
Keluhan lainnya adalah kesulitan yang dihadapi keluarga nelayan apabila akan mengadakan hajatan, pesta pernikahan atau khitanan. Demikian juga jika ada anggota keluarga nelayan yang meninggal, sangat sulit untuk mengangkut jenazah melalui jembatan yang sudah demikian hancur. Pernah suatu ketika seorang anak nelayan sakit dan harus segera dibawa ke puskesmas setempat, karena terlalu berat, maka orang yang menggendong anak yang sakit tersebut terperosok jatuh bersama anak yang digendongnya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak nelayan yang masih balita tidak dapat bebas bermain. Mereka dipaksa selalu berada dekat ibunya agar tidak terperosok di jembatan yang sudah banyak lubang-lubangnya itu. Beberapa ibu-ibu yang saya temui selalu menyampaikan harapannya agar saya mau menyampaikan keluhan mereka kepada pemerintah setempat. Sudah beberapa kali wartawan datang ke BaTam, tetapi tidak pernah datang bantuan.
bagan-tambahan-13
bagan-tambahan-162
Kenyataan lain yang saya temui di perkampungan nelayan BaTam adalah TIDAK ADA TEMPAT SAMPAH. Saya tidak pernah melihat tempat sampah dimanapun saya mampir. Ketika hal tersebut saya tanyakan kepada para penduduk, mereka dengan polosnya mengatakan sampah langsung dibuang ke sungai atau ke bawah rumah. Kalau begini terus suatu saat sungai akan semakin dangkal dan secara tidak langsung akan berpengaruh negatif pada kelangsungan kehidupan nelayan.
bagan-deli-10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar