Pengikut

Selasa, 22 Maret 2011

22 MARET: HARI AIR SEDUNIA ; Antisipasi Krisis Air


22/03/2011  Alam bertubi-tubi mengguncang dan menguras habis kehidupan umat manusia. Setelah gempa dan tsunami Jepang, apa lagi? Bumi semakin tidak bersahabat. Daratan, lautan, udara, air, sungai, gunung yang keindahannya begitu menawan sering cepat berubah menjadi monster pembunuh massal yang mengerikan. Sebagian keganasan alam terjadi akibat kebodohan perilaku manusia itu sendiri. Pada 22 Maret 2011 ini marilah kita kembali merenungkan alam: air.
Masalah air sangat serius, maka setiap 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day), sebuah peringatan yang dicanangkan oleh PBB melalui Resolusi Nomor 147/1993. PBB menyadari bahwa krisis air telah benar-benar serius. Dulu, seorang astronout yang berada di angkasa luar, bila mengarahkan matanya ke bola bumi akan melihat dengan jelas danau Cad. Pada 1963, danau Cad masih terlihat sangat besar dan luas. Danau yang mengagumkan itu dikitari oleh negara-negara Kamerun, Cad, Niger, dan Nigeria. Namun, pada 2007, danau ini telah menyusut 95 persen. Tak lama lagi, menurut ilmuan Lester R Brown, danau ini akan lenyap dan lokasinya bisa menjadi misteri bagi generasi yang akan datang.
Di Indonesia, krisis air juga mengancam. Seperti diberitakan KR  (14 Maret 2009), meskipun Indonesia termasuk negara dengan cadangan air terkaya di dunia (2.530 km3/tahun), kelangkaan air telah mengintip kita. Sejak 2000, di Jawa dan Bali mulai terjadi kelangkaan air. Pada 2015 kelangkaan air diproyeksikan terjadi di Sulawesi dan NTT. Kawasan Jabodetabek diprediksi mengalami kekurangan air 64,1 m3/ detik pada 2025.
Krisis air telah menyengsarakan hidup berjuta-juta umat manusia. Peneliti bernama Diane Raines Ward dalam bukunya berjudul Water Wars - Drought, Flood, Folly, and the Politic of Thirst, mengatakan bahwa 40 persen populasi dunia harus bekerja keras untuk mendapatkan air. Mereka harus memikul air dari sungai, perigi, kolam, atau kubangan air untuk dibawa ke rumah-rumah mereka. Ward juga menjumpai banyak penduduk harus membawa wadah dan mengusung air seberat lebih dari 20 kilogram untuk kebutuhan keluarga-keluarga mereka.
Krisis air menuntut strategi pembangunan yang tepat. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) misalnya, harus semakin digalakkan untuk meningkatkan persediaan air tanah. Menurut arsitek lanskap Nirwono Joga (2007), 1 hektar RTH di kota yang dipenuhi dengan pepohonan besar akan mampu pertama, menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk 1.500 penduduk per hari. Kedua, menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Ketiga, mentransfer 4.000 liter air per hari. Keempat, menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius. Kelima, meredam kebisingan sampai 25-80 persen.
Krisis air menuntut kearifan masyarakat tanpa harus menunggu tindakan pemerintah yang seringkali tidak bisa diharapkan. Kearifan lokal semacam itu dilakukan oleh komunitas wanita India di distrik Dholera (sebelah barat Gujarat). Menurut laporan majalah Awake, pada 1985 sekelompok perempuan itu membangun kolam penampungan air seluas lapangan sepakbola. Mereka melapisi kolam itu dengan plastik padat agar tidak bocor. Alhasil, berbulan-bulan setelah musim hujan berlalu, mereka masih mempunyai persediaan air berlimpah-limpah.
Di samping kearifan masyarakat, pemerintah juga perlu melakukan tindakan mengatasi krisis air. Di Chile Amerika Selatan, pemerintah mengendalikan semua hak milik atas air disamping membangun bendungan. Jika dulu terjadi krisis air, kini 99 persen penduduk kota dan 94 persen penduduk desa di Chile bisa menerima air bersih dengan baik. Masyarakat dan pemerintah sama-sama harus arif menghadapi krisis air.
Ketika Tuhan menciptakan manusia, Ia memberi manusia tugas untuk mengelola bumi. Tetapi, manusia justru serakah mengeksploitasi alam karena hakikat dosa yang melekat pada dirinya. Kini, setelah manusia menghisap kemanisannya, bumi tinggal menyisakan getahnya. Persoalannya, sejauh ini, belum ada alternatif tempat tinggal lain selain bumi. Marilah kita bertobat untuk membangun bumi kembali. Bukan hanya untuk kita, namun untuk anak cucu di masa depan. q - s. (2660-2011)
*) Haryadi Baskoro SSos MA MHum,  Pengamat,  Peneliti, Penulis
bidang Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar