Pengikut

Rabu, 09 Maret 2011

Polhut Batanghari Temukan Banyak Perambah yang Bandel

MUARA BULIAN - Dinas Kehutanan Batanghari mengaku selama ini selalu aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat yang menggunakan kawasan hutan sebagai lokasi perkebunan, dan menyosialisasikan larangan menggunakan kawasan hutan untuk areal perkebunan.

Hal itu bukan hanya dilakukan untuk perambah yang berada di dalam kawasan hutan restorasi, tapi juga bagi perambah yang berada di kawasan hutan lainnya. "Sebagian ada yang menuruti ajakan kami untuk meninggalkan hutan yang dirambah, tapi sebagian besar masih tetap bertahan di dalam kawasan. Saat kami datang mereka keluar dari kawasan, tapi setelah kami pulang, mereka masuk lagi ke kebunnya yang di hutan itu," tutur Isbeihel, anggota Polhut Batanghari.

Urip, Head Forestry PT Reki mengatakan, selama ini dalam melakukan pengawasan atas konsesi areal restorasi seluas 101.355 hektare, di Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan itu, pihaknya melakukan upaya pencegahan masuknya perambah-perambah baru.

"Berdasarkan pengamatan kami, perambah baru itu umumnya didatangkan oleh mereka-mereka yang sudah duluan membuka kebun di dalam kawasan ini. Mereka mendatangkan teman atau keluarga dari kampungnya untuk membuka kebun sawit di sini," katanya yang ditemui di dalam kawasan restorasi.

Terhadap perambah baru itu, pihaknya memberikan penjelasan atas status tanah yang sedang mereka garap itu. Banyak di antara mereka yang tidak tahu bila tanah yang mereka garap atas suruhan orang yang merekrutnya itu ternyata kawasan hutan.

"Kami meminta mereka agar keluar dengan cara persuasif, bukan dengan cara kekerasan,” katanya.

Polisi Hutan, katanya, tidak akan melakukan penangkapan terhadap para perambah. "Penangkapan itu bukan ranah kami, tapi itu wewenang kepolisian. Kami paling hanya bisa menyampaikan pengaduan terkait hal-hal seperti ini," ucapnya.

Agar penduduk sekitar tidak ikut menjadi perambah, PT Reki melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam budidaya bibit tanaman hutan. "Kami berikan kepada mereka bibit tanaman hutan untuk dibesarkan, dan setelah besar kami beli lagi bibit itu dari mereka. Strategi ini bisa membuat mereka menahan diri untuk tidak merambah. Tahun ini ada 80 ribu bibit yang akan kami beli dari penduduk, dan bibit itu akan ditanam segera,” ungkapnya.

Disinggung mengenai upaya menekan laju kerusakan hutan, ia menyebut selain melakukan penanaman pohon dalam bentuk pengayaan reboisasi, pihaknya akan secera rutin melakukan patroli di sekitar kawasan itu. Selain itu saat ini sedang dirancang sebuah program yang akan bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk sama-sama membangun kawasan hutan ini," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar