Pengikut

Selasa, 22 Maret 2011

5 Perusahaan didorong tekan pemakaian air bersih


 22 March 2011 JAKARTA: Global Compact Network Indonesia mendorong lima perusahaan nasional untuk menekan penggunaan air bersih sebagai bagian dari partisipasi swasta dalam mendukung gerakan hemat air.

Kelima perusahaan itu adalah PT Asia Pulp and Paper, PT Rajawali Plantation, PT Martina Berto Tbk, perusahaan armada taksi Express Group, serta perusahaan ritel PT Supra Boga Lestari.

Mereka diwajibkan membuat rencana penghematan air dan pengelolaan sanitasi dalam sebuah komitmen bernama CEO Water Mandate yang dicetuskan United Nations Global Compact sejak 2007. Lembaga ini merupakan bentukan PBB yang diikuti secara sukarela oleh berbagai institusi.

CEO Mandate Water ini merupakan program internasional yang diikuti oleh para pemimpin perusahaan di dunia dalam mengelola air bersih dan sanitasi. Program ini mulai diterapkan di Indonesia, yang diawali oleh lima perusahaan, pada tahun ini. Penandatanganan komitmen itu juga merupakan bagian dari peringatan Hari Air Sedunia 2011 yang diperingati setiap 22 Maret.

Presiden Global Compact Network Indonesia Y.W. Junardy mengatakan kelima perusahaan itu akan diwajibkan menerapkan enam prinsip penggunaan air secara berkelanjutan.

Prinsip itu terdiri dari penghematan penggunaan air dalam aktivitas bisnis, pengelolaan air di seluruh rantai pasokan, kontribusi terhadap pengembangan kebijakan publik mengenai perlindungan air, serta transparansi dalam publikasi pengelolaan air berkelanjutan.

“Setelah berkomitmen, perusahaan akan melakukan studi dan menentukan model yang tepat, lalu mengimplementasikannya,” ujarnya seusai penandatanganan CEO Water Mandate, hari ini.

Junardy mengatakan kelima perusahaan itu merupakan salah satu konsumen air bersih terbesar di sektor swasta. Perusahan-perusahan itu sangat mengandalkan ketersediaan air bersih dalam kegiatan operasionalnya.

Setiap tahun diharapkan ada perusahaan lain yang ikut bergabung dalam gerakan penghematan air oleh swasta ini.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim mengatakan ancaman krisis air bersih di Indonesia sudah di depan mata namun tidak disadari.

Menurut dia, masalah ketersediaan air bersih bukan hanya urusan pemerintah, LSM, maupun para pemerhati, melainkan semua pihak.

Kontribusi swasta terhadap pengelolaan air bersih dan sanitasi ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan air bersih yang tepat guna.

Managing Director Sustainability Asia Pulp and Paper Aida Greenbury McLean mengatakan perusahaannya sudah menerapkan prinsip penggunaan air dalam mengelola kertas.

Namun, kata dia, masih diperlukan terobosan dan inovasi lagi dalam konservasi air sehingga pihaknya bergabung dengan program CEO Water Mandate.

“Kami mengalokasikan dana sekitar US$40 juta per tahun untuk program lingkungan. Kami memerlukan masukan dan cara-cara baru dalam mengelola air,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar