Pengikut

Rabu, 09 Maret 2011

Pengembang Sulit Dapat Pasokan Air PDAM Tirtanadi

Meski sudah mengajukan permohonan lebih dari dua bulan lamanya, namun pengembang tak kunjung mendapat realisasi dari PDAM Tirtanadi. Pengembang perumahan sulit mendapat pasokan air dari perusahaan air plat merah itu.

"Untuk sementara penghuni yang tinggal di kompleks dikasih sumur bor dulu, karena air pamnya belum juga masuk," jawab Manager Keuangan PT Cipta Raja Property Rahmat Kadavi, ketika ditanyakan apakah fasilitas PDAM Tirtanadi sudah dilengkapi di lokasi proyek pembangunan perumahan miliknya, di kawasan Medan Selayang, Rabu (2/3).

Kondisi ini menjadi dilema bagi pengembang. Pengadaan fasilitas air bersih salah satu syarat mutlak fasilitas yang mesti disediakan pengembang untuk penghuni kompleks. Panjangnya daftar tunggu pengajuan pemasangan jaringan PDAM Tirtanadi membuat developer mesti bersabar menunggu waktu lama.

Diungkapkannya, peristiwa ini dialami perumahan Cipta Pesona Ngumban Surbakti, terletak di Jalan Terompet, kawasan Medan Selayang, proyek yang kini sedang mereka bangun. Proyek di atas lahan hampir 1,8 hektar ini membangun 3 jenis rumah yakni tipe 36, 45 dan 54 dengan total lebih dari 100 unit.
"Karena air pam (sebutan di masyarakat menyebutkan air dari PDAM, red) belum masuk juga, maka penghuni yang sudah tinggal di sana kita buatkan sumur bor untuk sementara waktu. Tapi, nanti jika pam sudah masuk, tetap kita pasang air pet, sebab itu sudah menjadi ketentuan dari persyaratan kita kepada konsumen," ucap Rahmat.

Diakuinya, akibat sulitnya mendapat pasokan air dari PDAM Tirtanadi membuat konsumen melontarkan keluhan terhadap pengembang, sebab merasa tidak terima akan fasilitas yang tak kunjung disediakan developer.

"Tapi mau dibilang apa lagi, namanya juga tanggungjawab kita. Makanya, diharapkan agar air dari PDAM bisa segera dipasang," ucapnya.

Sekretaris DPD Realestat Indonesia (REI) Sumut Jafar Syahbuddin Ritonga mengakui, banyak keluhan yang masuk ke asosiasi terkait lambannya pelayanan PDAM Tirtanadi melayani kebutuhan pelanggan baru, terutama pembangunan perumahan baru.

"Iya, kita dengar banyak keluhan tentang itu. Rata-rata perumahan di Medan mengalami hal itu. Semua itu disebabkan, PDAM tidak pernah menambah kapasitas debit air mereka, sementara kebutuhan permintaan air terus bertambah tiap tahun," tukas Jafar.

Jafar mengkritisi sikap PDAM yang dinilai tidak cepat tanggap memperhitungkan demand pelanggan setiap tahunnya, dan lamban mengikuti perkembangan perkembangan masyarakat.

"Itu dikarenakan mereka memonopoli. Artinya, masyarakat yang butuh mereka. Harusnya mindset itu yang mereka harus ubah, hingga daftar antri tidak sepanjang saat ini. Mereka mesti customer oriented," imbuhnya.

Jafar menegaskan, PDAM Tirtanadi mesti memperbaiki kinerja layanan mereka, sebab buat pengembang, terhambatnya penyediaan sarana air bersih, membuat mereka rugi. Selain mempengaruhi nilai jual tanah, pengembang mesti mengeluarkan biaya baru bagi pemasangan sumur bor yang berkisar di atas Rp 1,5 jutaan.

Humas PDAM Tirtanadi Delfiyandi saat dikonfirmasi, membenarkan pihaknya sedang menyeleksi pengajuan jaringan baru dengan alasan produksi terbatas. "Benar, saat ini sedang terbatasnya air maka sambungan air untuk pengembang jadi selektif," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar