Pengikut

Senin, 21 Maret 2011

Erosi Serayu, 30 Hektare Lahan Warga Longsor

ANCAM LAHAN WARGA: Erosi Sungai Serayu di Desa Srowot kecamatan Kalibagor sangat parah sehingga dapat mengancam lahan pertanian warga, kemarin.    

Erosi Serayu, 30 Hektare Lahan Warga Longsor
Penguatan Tebing Sungai Lamban

KALIBAGOR-Erosi Sungai Serayu di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor semakin parah pasalnya, telah 30 hektare lahan kering milik warga yang digunakan untuk tanaman palawija berupa kacang menjadi longsor. Untuk mengantisipasi pengikisan sungai tersebut agar tidak semakin melebar salah satu cara dengan penguatan tebing sungai di desa setempat, namun penanganannya dari pemerintah dinilai lamban.

Ketua Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) Banyumas, Sungging Septivianto mengatakan padahal lahan kering tersebut merupakan sumber penghasilan masyarakat karena saat ini ditanami berbagai macam tanaman pangan. Seharusnya pemerintah harus melakukan penanganan pada tebing tersebut yang mengancam lahan warga. "Selain di desa Srowot kondisi pengikisan tanah juga terjadi di Desa Cindaga," katanya kemarin.

Menurut dia, warga sangat berharap tebing itu segera ditangani pemerintah. Dari penuturan warga, rencananya pemerintah akan menguatkan tebing pada April 2010, tapi sampai saat ini belum terealisasi.

"Pihaknya tidak bisa melakukan penguatan itu karena bukan kewenangan kami. Saat ini kami hanya akan menjembatani warga setempat ke Dewan Sumber Daya Air Nasional di Jakarta tentang kondisi yang terjadi di lapangan," imbuhnya.

Diketahuinya kondisi sungai serayu tersebut setelah Tim Jelajah Sungai Serayu yang tergabung dalam Kompleet dan Telapak Bogor untuk menyusuri sungai itu dilaksanakan mulai dari Senin-Kamis,(12-15/4). Penyusuran tim jelajah tersebut ke empat Kabupaten Yakni Kabupaten Banyumas, Cilacap, Wonosobo serta Purbalingga dengan kegiatannya menyinggahi desa yang dilintasi sungai serayu sehingga mendapatkan hasil sangat memprihatinkan.

Libatkan Masyarakat
Seharusnya pemerintah dalam merencanakan pembangunan, kata Sungging juga dengan melibatkan warga untuk berkomunikasi agar masyarakat ikut mengetahui. Selain pengikisan secara alami, erosi juga karena berkaitan dengan aktivitas penambangan pasir, namun kini warga sudah menertibkan para penambang itu agar mengantongi surat izin.

Salah seorang anggota Telapak Bogor yang ikut juga dalam ekspedisi tim jelajah serayu, Rita Mustikasari mengungkapkan di desa Srowot saat ini meskipun berdekatan dengan sungai tapi lahan pertanian warga mengalami kekeringan karena petani tidak mempunyai teknologi pengairan untuk mengangkat air agar mengalirkan ke lahan mereka. Menurut dia, seharusnya ada teknologi untuk menaikkan air sungai ke atas dengan dilakukan bersama dewan sumber daya air provinsi. "Seharusnya pemerintah melibatkan masyarakat untuk mengatasi permasalahan kekeringan itu yakni dengan mulai dari merencakan, implementasi dan monitoring pengelolaan air," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar