Pengikut

Selasa, 22 Maret 2011

Hari Air Sedunia: Susahnya Hidup di Perkampungan Kumuh


Susianah Affandy - suaraPembaca




Jakarta - Di tengah hiruk pikuk permasalahan social-politik yang kian carut marut belakangan ini, kita hampir saja melupakan moment yang tak kalah penting terkait dengan keberlangsungan hidup kita. Hari ini 22 Maret 2011 semua bangsa di dunia tengah menyelenggarakan hari Air Sedunia dengan mengusung tema Water for Cities, Responding to The Urban Challenge (Air Perkotaan dan Permasalahannya).

Selama ini kita menganggap permasalahan air bukanlah permasalahan pokok kehidupan. Selama ini kita berfikir bahwa jumlah air yang ada di bumi saat ini tetap sama dengan jumlah air ketika nenek moyang kita hidup ratusan tahun silam. Jawabnya memang benar. Persoalannya apakah bentuk air yang kita kosumsi sama dengan air yang dipakai oleh para pendahulu kita dulu?

Pencetusan Hari Air Sedunia (World Day for Water) diumumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 pada 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Peringatan Hari Air Sedunia bermaksud sebagai upaya penyadaran kepada semua makhluk yang ada di bumi ini akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan.

Komposisi air yang kita gunakan luasnya mencapai 70% permukaan bumi. Namun dari keseluruan air yang ada 97% di antaranya adalah air asin sedangkan sisanya yang 3% adalah air tawar. Permasalahannya tidak semua air tawar dapat kita gunakan karena dari jumlah 3% masih harus terbagi menjadi es, air tanah, air permukaan dan uap air.

Masalah Urbanisasi

Masalah urbanisasi yang sampai kini menjadi hantu bagi pemerintah DKI Jakarta tak bisa dipisahkan dengan program pembangunan perkotaan. Mengapa masyarakat desa berbondong ke Jakarta, hampir semua kalangan memberikan jawaban dan analisis yang sama bahwa factor penariknya (kota Jakarta) sangat kuat di samping lahan pertanian di pedesaan yang kini menyempit juga menjadi factor pendorong tersendiri (Susianah, 2011).

Pembangunan perkotaan yang selama ini menjadi ujung tombak kemajuan suatu bangsa, sebagai pusat peradaban, pusat budaya, pusat ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan menyebabkan kepincangan antara kota besar, kota kecil dan desa. Kebijakan politik yang menerapkan pembangunan “sentralistik” dengan menjadikan DKI Jakarta sebagai pusat pembangunan tak ayal jika hal tersebut mengundang minat besar penduduk desa berpindah ke Jakarta.

Dampak urbanisasi yang sangat nyata dalam pembangunan fisik perkotaan di Ibu kota adalah adanya dua wajah kota seperti dua sisi mata uang, tradisional dan modern yakni bersifat kekotaan dan pedesaan, terencana-teratur dan tidak terencana-tidak teratur, kualitas tinggi dan kumuh. Sejarah pertumbuhan kota di Negara dunia ketiga hampir dipastikan menghadapi dilemma dan permasalahan kembar yakni urbanisasi dan kemiskinan penduduk.

Kaum urban yang sebagian besar tidak memiliki bekal ilmu dan keahlian menempati perkampungan kumuh dan miskin di perkotaan. Daerah perkotaan yang seharusnya bukan untuk hunian seperti sepanjang rel kereta api, sepanjang sungai Ciliwung dan bahkan di bawah jembatan kemudian menjelma menjadi perkampungan kumuh dengan dinamika kemiskinan. Warsilah (2000) menyebutkan bahwa faktor ketrampilan menyebabkan kaum urban hanya berhasil memasuki pasar kerja kasar dan sebagian besar dalam keadaan menganggur.

Struktur rumah di perkampunya kumuh biasanya hanya terdiri dari sebuah ruang (disebut kamar). Di kamar inilah satu keluarga yang terdiri dari suami-istri dengan rata-rata tiga anak berdiam diri selama bertahun-tahun. Fungsi kamar di malam hari mereka gunakan untuk istirahat sedangkan di siang hari untuk bercengkerama bersama anggota keluarga.

Di depan rumah biasanya digunakan untuk warung kecil, menjual makanan ringan atau warung nasi. Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan dasar besi-besi loakan ini sebagian besar menutupi areal sungai, rel kereta api. Sedangkan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) terletak di luar rumah yang khusus dibangunkan semua penghuni jajaran rumah kumuh.

Di rumah kumuh ini, setiap penghuninya masih dikenakan uang sewa rumah dengan besaran kisaran Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,-. Sedangkan pemilik rumah kumuh tersebut sebagian besar adalah aparat rendahan di daerah tersebut. Selain membayar uang sewah rumah, para penghuni rumah kumuh ini juga dikena kan bayaran air sebesar Rp. 50.000,-

Gaya hidup kaum urban yang menempati perkampungan kumuh memiliki resiko yang tinggi. Kondisi lingkungan yang tidak sehat dengan minimnya fasilitas air bersih membuat mereka sangat dekat dengan penyakit kulit.

Belum lagi limbah kendaraan yang lalu-lalang di depan rumah mereka juga semakin membuat mereka hidup dalam lingkaran persoalan kemiskinan yang menjerat. Hampir setiap tahu dirumah-rumah kumuh di Jakarta (bantaran sungai Ciliwung) ada anak-anak yang meninggal dunia karena penyakit malaria, muntaber atau TBC.

Hal ini tentu berbeda dengan mereka yang hidup di rumah-rumah mewah di DKI Jakarta. Penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari sepertinya menjadi gaya hidup mereka tanpa memperdulikan peruntukannya buat masyarakat lainnya

*Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Sosiologi Pedesaan

Susianah Affandy
Komp. Dosen IPB Jalan Melati No 1 Darmaga Bogor
susianah.affandy@yahoo.com
081399236046

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar