Pengikut

Selasa, 01 Maret 2011

Ketersediaan dan Kelangkaan Air bersih

Planet ini (BUMI) lebih dari setengahnya (kurang lebih 70%) terdiri dari air (lautan). Air adalah unsur utama bagi kehidupan mahkluh hidup di planet ini. Mahkluh hidup tidak akan mampu bertahan hidup tanpa mengkonsumsi air hanya dalam beberapa hari, tetapi tanpa mengkonsumsi makanan, mahluk hidup masih dapat bertahan dalam kurun waktu yang lebih lama, bahkan bisa beberapa minggu. Walaupun sekarang kita hidup dalam dunia yang sudah sangat modern, mahluk hidup tetap tidak akan mampu lepas dari kebutuhan terhadap air. Misalnya ketergantungan petani terhadam air dalam melakukan budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi.

Kini semakin jarang terdapat sumber-sumber air bersih, karena sumber-sumber air tersebut semakin banyak saja yang dicemari oleh limbah industri, limbah tersebut tidak diolah dan dibuang begitu saja atau mencemari karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Perlu kita ketahui kalau kita (penduduk bumi) tidak mengadakan perubahan radikal dalam hal tatacara memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara. Ada fakta yang mengatakan bahwa;

* “Harga air antara 37 ribu rupiah hingga 75 ribu rupiah per meter kubik. Tak ada orang di dunia yang membayar air dengan harga 7 Dolar AS (+_ 70,00an rupiah)per meter kubik,” ujar Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta. Dengan harga sebesar itu merupakan percapaian rekor harga Air termahal didunia.
* Saat ini, satu dari enam orang di dunia sulit mendapatkan akses air bersih. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi pada 2025, separuh dari negara negara di dunia akan menghadapi kekurangan ketersediaan dan kelangkaan sumber air bersih.

Seharusnya semua manusia harus berharap agar air diperlakukan dengan baik serta dijaga terhadap cemaran dan dimanfaatkan secara bijak karena air adalah bahan yang sangat bernilai bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Akan tetapi kenyataan mengatakan demikian; air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir setengah dari jumlah penduduk dunia secara keseluruhan, sebagian besarnya terdapat di negara-negara berkembang, mereka menderita berbagai macam penyakit yang disebabkan karena kekurangan air bersih atau oleh air yang tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Helth Organization yang sering disingkat dengan WHO, dua miliar orang sekarang menghadapi resiko menderita berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini yang menjadi faktor utama penyebab kematian lebih dari lima juta anak-anak setiap tahun diseluruh dunia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang benar-benar memahami masalah-masalah pencemaran dan lingkungan hidup yang sebagian besar diakibatkan oleh perindustrian, akan tetapi tetap saja jarang sekali yang menyadari dampak yang dapat terjadi. Sebagian besar penduduk bumi dan sebagian besar berada di negara-negara berkembang kurang menyadari kalau mereka harus mendapatkan sumber air yang layak, dan kalau mereka menginginkan ekonomi mereka berkembang dan berindustrialisasi, maka masalah-masalah yang kini ada harus disembuhkan. Bagaimanapun juga masalah persediaan air tidak dapat diatasi secara terpisah dari masalah lain, seperti buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air (sering kali tak teratasi) pembuangan sampah, penggundulan hutan, kurang sempurnanya usaha dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik, pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat menyebabkan hidup orang sengsara. Oleh karena itu, dalam jangka panjang akan sangat penting memikirkannya dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, sanitasi, saluran, dan limbah padat yang komprehensif.
Air adalah suatu elemen yang paling banyak serta melimpah-ruah di atas Bumi ini, banyak dari data-data yang menyebutkan bahwa air yang ada ini, menyelimuti hampir lebih dari tujuh puluh persen permukaannya dan berjumlah kurang-lebih 1,4 ribu juta kilometer kubik. Dan apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata tiga kilometer. Dari sekian banyaknya jumlah air yang ada dibumi tersebut hanya sebagian kecil saja yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup mahluk hidup, yaitu sekitar 0,003 persen. Sebagian besar air yang ada dibumi terdapat di samudra dan di lautan, sekitar sembilan pulun tujuh persen dari jumlah keseluruhan, dan dari jumlah tersebut mengandung kadar garam yang terlalu tinggi untuk dapat dimanfaatkan oleh mahluk hidup (kecuali mahluk hidup yang ada di lautan). Sisa dari prosentase jumlah air (skitar tiga persen) sebagian besar terdapat dikutup dan tersimpan di dalam tanah (bawah tanah).

Dari hasil saya (Nyak Neea) melakukan surfing di internet ditemukan data-data sebagai berikut, dalam kurun waktu setahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari empat puluh ribu kilometer kubik air bersih yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas tiga ribu kilometer kubik tiap tahun. Dari rata-rata ketersediaan air bersih tersebut sepadan dengan lebih dari tujuh ribu meter kubik untuk setiap orang dalam jangka waktu satu tahun. Sepintas perhitungan diatas memang kelihatannya mencukupi untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, akan tetapi pada kenyataannya, air tersebut tadak merata penyebarannya dan seringkali tersedia di tempat-tempat yang tidak tepat. Sebagai contoh, di lembah sungai Amazon yang memiliki sumber air berih yang cukup tetapi mengekspor air dari sini ke tempat-tempat yang lain dan yang memerlukan. Selain itu, angka curah hujan sering sangat kurang dapat dipercaya, pada musim penghujan, hujan sangat hebat, namun biasanya hanya terjadi beberapa bulan setiap tahun.

Bahkan di kawasan-kawasan “basah”, angka yang turun-naik dari tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata. Sedangkan di kawasan kering seperti Sahel di Afrika, masa kekeringan yang berkepanjangan dapat berakibat kegagalan panen, kematian ternak dan merajalelanya kesengsaraan dan kelaparan. Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang menyebabkan pertengkaran, dan sering juga emosi. Keributan masalah air bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas.

Karena air yang dapat diperoleh dan bermutu bagus semakin langka, maka percekcokan dapat semakin memanas. Di seluruh dunia, kira-kira dua puluh negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah seribu meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan delapanbelas negara lainnya memiliki di bawah dua ribu meter kubik untuk tiap orang. Lebih parah lagi, penduduk dunia yang kini berjumlah 5,3 miliar mungkin akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025. Beberapa ahli memperkirakan bahwa tingkat itu akan menjadi stabil pada angka enambelas miliar orang. Apapun angka terakhirnya, yang jelas ialah bahwa tekanan yang sangat berat akan diderita oleh sumber-sumber bumi yang terbatas. Dan laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang. Dalam tahun-tahun belakangan ini, sebagian besar angka pertumbuhan penduduk terpusat pada kawasan perkotaan. Pertumbuhan penduduk secara menyeluruh di negara-negara berkembang kira-kira 2,1 persen setahun, tetapi di kawasan perkotaan lebih dari 3,5 persen. Daerah kumuh perkotaan atau hunian yang lebih padat di kota yang menyedot pemukim baru termiskin tumbuh dengan laju sekitar 7 persen setahun.

Sementara itu, masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang bukan hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, melainkan dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-masalah tersebut lama setelah akibat yang tak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan: Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar