Pengikut

Selasa, 01 Maret 2011

Isu Lingkungan di Indonesia: Global Warming, Deforestasi, dan Pencemaran Air

Anggri Lukman Djatta, seorang komikus dari Palangkaraya mengatakan, “Indonesia itu ada tiga musim, yaitu musim hujan, kemarau, dan musim asap.” Perkataan itu adalah sindiran akan adanya asap kebakaran hutan yang sering dijumpai di Kalimantan Tengah saat kemarau. Kebakaran hutan yang menghabiskan ribuan hektar hutan, yang dapat mengancam eksistensi flora dan fauna. Berbeda lagi dengan ibukota, problematika air bersih mulai dirasakan hampir disemua tempat. Sumur-sumur dinyatakan dalam kondisi tercemar. Volume air tanah menurun ketika musim kemarau, sehingga air menjadi barang langka di ibukota negeri yang katanya kaya raya.
Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Dua masalah diatas hanyalah secuil dari berbagai isu lingkungan yang kompleks di negeri kita. Rentetan masalah seperti global warming, deforestasi dan masalah krisi air bersih serta sanitasi sudah dan masih melanda (World Bank). Meskipun banyak yang berkaitan, pengelompokan masalah bisa dilakukan. Tujuannya adalah mempermudah pemahaman dan pencarian solusinya. Semakin spesifik masalah, semakin mudah pula penyelesaiannya.
Tulisan berikut berisi uraian singkat tentang berbagai masalah lingkungan di Indonesia. Hal-hal yang ditekankan adalah definisi, penyebab dan dampak serta alternatif solusi yang diajukan.

Pemanasan Global (Global Warming)

Pemanasan global atau global warming adalah naiknya suhu di bumi. Kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh adanya efek rumah kaca (green house effect). Panas matahari yang seharusnya dipantulkan ke angkasa justru terhalang oleh gas rumah kaca, yaitu CO2 atau karbondioksida dan beberapa gas lain seperti CFC. Meskipun begitu, pembahasan global warming menekankan pada CO2 karena jumlahnya sangat banyak dibandingkan gas-gas lain.
Karbondioksida dapat menyebabkan efek rumah kaca jika kadarnya melebih normal. Gas tersebut dihasilkan oleh pembakaran yang terjadi pada berbagai kegiatan makhluk hidup, termasuk manusia. Proses pernafasan akan menghasilkan gas CO2, namun jumlahnya terlalu kecil untuk menyebabkan akumulasi di atmosfer. Sumber yang paling besar dalam akumulasi CO2 adalah industri dan transportasi yang menggunakan BBM.
Kendaraan
Banyaknya kendaraan di Jakarta merupakan sumber gas rumah kaca terutama karbondioksida
Bagaimana proses terjadinya global warming?
Panas matahari yang sampai ke bumi sebagian dipakai makhluk hidup di bumi, sedangkan yang lain harus dipantulkan untuk menghindari kelebihan panas di bumi. Akan tetapi, panas matahari yang dipantulkan ke angkasa terhalang oleh adanya gas rumah kaca. Akibatnya, panas tersebut akan dipantulkan kembali ke bumi dan berada di atmosfer. Akumulasi panas akan memicu kenaikan suhu di atmosfer bumi.
Pemanasan global diketahui sudah menimbulkan berbagai dampak negatif di Indonesia. Dampak negatif yang muncul antara lain musim yang tidak menentu serta permasalahan di laut dan pesisir.
Pertama, pemanasan global telah menyebabkan perubahan pola musim di Indonesia. Dulu, musim di Indonesia bisa diperkirakan, yaitu musim hujan pada bulan Oktober-April dan kemarau pada bulan April sampai Oktober. Perubahan pola musim tersebut mengganggu produktivitas pertanian di Indonesia. Tanaman musiman banyak yang gagal panen karena cuaca sangat tidak menentu. Petani menjadi malas menanam, khususnya tanaman musiman, karena takut gulung tikar.
Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kepulauan paling banyak di dunia. Akibatnya, hampir sebagian besar daerah di Indonesia berbatasan dengan pantai. Namun, kehidupan di daratan dekat pantai terancam karena naiknya permukaan air laut. Kenaikan air laut akan mempersempit luas pulau, dan juga menenggelamkan lokasi pemukiman di dekat pantai.
Suhu yang terlau tinggi mengurangi volume es di daerah kutub. Area terdapatnya es menjadi semakin menyempit ke arah kutub. Penyempitan terjadi karena es mencair, dan menambah volume air di lautan. Kenaikan volume air laut itulah yang menyebabkan adanya kenaikan permukaan laut.
Pemanasan global juga menyentuh ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang merupakan kekayaan alam di Indonesia yang sangat berharga. Potensi wisata bahari itu terbukti mampu mendatangkan keuntungan bagi negara. Namun, kondisinya saat ini tidak seperti yang diharapkan. Era 90-an dan beberapa tahun terakhir (2008-sekarang) merupakan masa suram bagi terumbu karang. Adanya kenaikan suhu pada air laut telah menyebabkan pemutihan terumbu karang, atau terkenal dengan istilah coral bleaching. Pemutihan karang disebabkan karena alga Zooxanthellae (pemberi corak warna) mati jika suhu terlalu tinggi.
Solusi pemanasan global perlu melibatkan peran semua sektor negara. Pemerintah dan jajarannya berperan dalam menjalin kerja sama dengan dunia internasional. Mereka dapat berperan aktif dalam forum-forum internasional, seperti konferensi perubahan iklim. Sampai saat ini, peran mereka cukup besar di dunia internasional, salah satunya dengan menjanjikan penurunan emisi sebesar 26%, termasuk paling besar di dunia.
Program tersebut menjadi tanggung jawab besar, baik pemerintah sekaligus kita semua. Selain mengadakan penyuluhan, pemerintah bekerja sama dengan LSM dan kelompok pecinta lingkungan bisa melakukan kerja sama. Namun, sampai saat ini hal tersebut belum terlihat dilakukan. Peraturan pemerintah tentang lingkungan juga perlu ditingkatkan, misalnya mengatur batas maksimal emisi kendaraan.
Upaya-upaya itu tidak akan memiliki pengaruh jika kita tidak proaktif terhadap pemerintah. Kita juga bisa bertindak pada sisi yang berbeda, sesuai situasi dan kondisi kita masing-masing. Pertama, kita bisa menurunkan BBM bisa dengan cara meminimalisasi kendaraan ber-BBM. Kedua, penanaman pohon bisa membantu menurunkan kadar CO2 di atmosfer. Selain itu, upaya pemahaman kepada teman di sekitar bisa dilakukan mengingat masih rendahnya kesadaran sebagian besar penduduk di Indonesia tentang global warming.

Deforestasi – Kerusakan hutan

Kerusakan hutan atau deforestasi di Indonesia merupakan salah satu yang terparah di dunia. Berdasarkan data Dephut, deforestasi di Indonesia menghilangkan hutan seluas 1.7 juta hektar per tahun selama periode 1985-1987. Jumlah itu naik pada periode 1997-2000, yang mencapai jumlah 2.8 juta ha/tahun. Setelah itu, terjadi penurunan jumlah menjadi 1.17 juta ha/tahun dari tahun 2003 – 2006.
Kerusakan hutan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain penebangan liar dan kebakaran hutan. Dua hal ini merupakan penyebab terbesar rusaknya hutan di Indonesia. Penebangan liar merupakan peristiwa klasik yang belum dapat dipecahkan sampai saat ini. Hal itu lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan pelaku dan dorongan ekonomi. Kebakaran hutan juga masih terjadi beberapa tahun terakhir, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Penyebabnya adalah pembukaan lahan baru dan kebakaran alami hutan rawa gambut.
Dampak yang ditimbulkan dari kerusakan hutan sangat beragam. Kerusakan hutan dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti global warming, tanah longsor dan hilangnya rumah berbagai satwa liar serta kepunahan spesies tumbuhan. Dampak tersebut belum mencakup dampak sosial, seperti asap kebakaran yang mengganggu negara tetangga.
Oleh karena itu, perlu diambil solusi jitu dari situasi dan kondisi yang ada. Pemerintah bersama masyarakat harus bekerja sama memperhatikan tingkat pemahaman masyarakat tentang fungsi hutan. Pemerintah sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan harus optimal, begitu juga dengan masyarakat yang harus proaktif. Taraf ekonomi masyarakat sekitar hutan harus ditingkatkan, karena masalah ekonomi inilah yang memicu mereka mengambil sumber daya hutan dalam jumlah besar.
Aturan perundang-undangan tentang hutan memang sudah ada di Indonesia. Aturan tentang sektor kehutanan ada pada UU No. 41/1999. Begitu juga dengan konservasi dan keanekaragaman hayati yang diatur dalam UU No. 5/1990. Namun, berbagai aturan tersebut tetap belum mampu menyelesaikan masalah kerusakan hutan. Ketidakmampuan itu disebabkan karena lemahnya pelaksanaan dan adanya praktik-praktik penyelewengan di lapangan. Misalkan saja aparat yang justru bekerja sama dengan para cukong kayu ilegal.
Dari hal tersebut, penegakan hukum masih terlihat sulit. Hal itu memicu pengambilan langkah baru, yaitu peningkatan taraf ekonomi masyarakat sekitar hutan. Hal itu memang sulit, tetapi adanya pembuatan perkebunan sekitar hutan di Lawu Selatan, Kabupaten Wonogiri, Jateng, merupakan salah satu langkah tepat.
Dalam artikel berjudul solusi mengatasi kerusakan hutan di Indonesia, disitu disebutkan bahwa masyarakat sekitar hutan di Lawu Selatan diperkenalkan dengan penanaman karet dan salak. Setiap warga yang memiliki tanah dipersilakan untuk bergabung. Masyarakat yang bergabung mendapatkan uang dari penanaman dan pembuatan lahan. Hal itu menjadikan antusiasme masyarakat begitu tinggi, sehingga setelah hampir 2 tahun, sudah banyak pohon karet yang tumbuh di lahan masyarakat. Masyarakat di sana dipermudah dengan adanya pabrik karet yang juga didirikan oleh pengelola. Dengan begitu, masyarakat sudah memiliki tempat penjualan penghasilan yang pasti. Akibatnya, masyarakat bisa diyakinkan bahwa program tersebut memiliki prospek yang cerah.
Bisa kita lihat bahwa pemerintah perlu menilik sektor ekonomi masyarakat dalam mengatasi masalah hutan. Adanya perkebunan karet yang sistemnya tanpa bagi hasil itu menjadikan bertambahnya pohon-pohon baru. Kegiatan masyarakat akan fokus pada perkebunan, sehingga kemungkinan masyarakat merusak hutan bisa dikurangi. Dengan syarat pengelolaan yang disiplin, pasti program tersebut bisa dilakukan diseluruh Indonesia.

Pencemaran Air: Krisis Air Bersih dan Dampak Pencemaran

Di kutip dari Harian Seputar Indonesia (22 Desember 2010), ketersediaan air bersih di Indonesia baru mencapai 49% atas dasar data USAID. Jumlah itu memperlihatkan banyaknya masyarakat yang kekurangan air bersih. Jika penduduk Indonesia sekitar 210 juta, berarti ada lebih kurang 104 juta jiwa tidak mendapatkan air bersih. Hal itu tentunya menjadikan persoalan air bersih tidak boleh dipandang sebelah mata.
Kekurangan air bersih di Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Kerusakan hutan, penggunaan air bersih yang berlebihan dan pencemaran disertai sanitasi buruk adalah beberapa penyebab degradasi kualitas dan kuantitas air. Di daerah perkotaan, kita juga melihat adanya kecilnya daerah resapan yang menyebabkan hilangnya air tanah.
Kerusakan hutan merupakan penyebab krisis air bersih yang paling mendasar. Hutan yang memiliki peran sebagai deposit air tidak akan berfungsi ketika tidak ada pepohonan di dalamnya. Air hujan seharusnya bisa ditampung dan dikeluarkan dalam bentuk mata air. Namun, tidak adaya pepohonan menyebabkan air langsung mengalir menuju sungai, dan tak jarang efek lain seperti banjir juga ditimbulkan.
Salah satu contohnya adalah sungai di Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Sungai tersebut menjadi kering atau debitnya menurun drastis. Volume air yang menurun disebabkan karena bagian hulu dari hutan tersebut tidak dijumpai lagi pepohonan (Limba, 2004).
Penggunaan air bersih yang berlebihan juga menjadi sumber kelangkaan air. Salah satu contohnya adalah penggunaan air di kota Jakarta, yang dinilai terlalu melebihi batas kewajaran. Misalkan saja untuk menyiram tanaman, warga masih memanfaatkan air bersih. Padahal, air bekas cucian pun bisa digunakan.
Selain kedua hal di atas, satu penyebab penting dari krisis air bersih adalah pencemaran dan buruknya sanitasi. Dua hal ini telah menajdi polemik di berbagai daerah, khususnya kota-kota besar di Indonesia.
Pencemaran adalah kondisi yang mana kadar suatu zat dalam air melebihi kadar normal. Selain itu, pencemaran bisa juga disebabkan oleh masuknya zat asing ke dalam air seperti logam berat. Adanya kadar zat berlebih dan kemungkinan zat asing bisa dilihat baik dari sifat fisik maupun kimia air. Dari segi fisiknya, kita tahu bahwa air yang bersih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak keruh. Jika kita menemukan air yang berwarna, berbau, atau keruh, itu bisa dijadikan indikasi awal awanya pencemaran dalam air. Sedikit berbeda dengan sifat fisik, sifat kimia air memang memerlukan alat untuk mengamatinya. Keasaman air atau pH perlu diamati alat dari laboratorium, begitu juga dengan kandungan berbagai zat dan berapa kadar oksigen dalam air.
Pencemaran air di Indonesia salah satunya disebabkan oleh pencemaran limbah, baik industri maupun rumah tangga. Limbah yang masuk ke sungai biasanya berupa logam berat, zat kimia beracun, zat deterjen dan sabun, serta pupuk buatan dari limbah pertanian. Sebagian bahan pencemar membahayakan hewan, sebagian lainnya mengubah komposisi kimiawi dan biologi dari perairan.
Limbah industri misalnya, diketahui telah menyebabkan pencemaran sekitar 13 sungai di Jakarta. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu sungai di Jakarta, yaitu Sungai Bekasi, telah tercemar oleh logam berat yang menyebabkan air berwarna hitam. Limbah rumah tangga juga tidak kalah berbahaya dibandingkan limbah industri. Deterjen dan sampah yang dibuang sembarangan merupakan dua contoh limbah yang berbahaya bagi sungai.
Sungai Ciliwung Manggarai
Ciliwung Manggarai - Sampah sebagai Limbah Pencemar
Pencemaran air di Indonesia banyak juga disebabkan oleh adanya eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan pengkayaan nutrien pada perairan. Umumnya, nutrien yang berada di perairan berasal dari limbah pupuk pertanian, juga limbah deterjen dari rumah tangga. Nutrien perairan yang menyebabkan eutrofikasi biasanya adalah nitrogen dan posfat. Keduanya merupakan nutrien yang sangat diperlukan oleh alga dan tumbuhan air bagi pertumbuhan. Akibatnya, banyaknya nitrogen dan posfat inilah yang sering menyebabkan fenomena blooming alga. Tanaman-tanaman air juga tumbuha dengan subur.
Akibat dari eutrofikasi adalah kematian beberapa spesies hewan di air. Penyebabnya adalah kandungan oksigen yang menurun. Selain itu, bisa terjadi juga perubahan komposisi hewan dalam perairan. Misalnya saja, daerah yang tercemar akan banyak terdapat ikan sapu-sapu. Ikan sapu-sapu merupakan ikan yang tahan terhadap kondisi perairan keruh dan tercemar. Tentunya hal tersebut menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan, bahkan kadang terjadi kepunahan berbagai spesies hewan air.
Efek dari pencemaran air tidak hanya di perairan tawar, namun juga sampai ke perairan di laut. Salah satu lokasi di Indonesia yang sudah terbukti tercemar adalah Teluk Jakarta. Belakangan pernah terjadi kematian ikan secara masal di Jakarta. Akibatnya, nelayan tidak bisa melaut. Selain itu, terjadi juga fenomena blooming alga, yang sering dinamakan dengan red tide. Ekosistem terumbu karang pun juga bisa tercemar bila kondisi terus berlanjut.
Masalah pencemaran air memang sudah cukup kompleks. Berbagai upaya yang melibatkan sinergitas antara pemerintah, swasta dan masyarakat perlu dilakukan. Seperti biasa, pemerintah merupakan pemegang kewenangan kebijakan. Swasta merupakan penyeimbang, dan masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan dari upaya yang direncanakan.
Untuk masalah perairan di Jakarta, sebaiknya dilakukan restorasi ekosistem sungai. Hal itu disebabkan karena kondisi sungai yang bisa dibilang cukup parah. Lain halnya dengan air tanah, upaya pemulihan kondisi air tanah bisa dilakukan dengan banyak menanam pohon dan memelihara lahan terbuka hijau di daerah perkotaan khususnya. Lahan terbuka hijau dinilai mampu mengembalikan kandungan air tanah, karena tumbuhan mampu menyerap air hujan. Lahan terbuka hijau juga bisa menjadi alternatif untuk menghindari banjir, suatu problem perairan klasik kita.
Penanaman tanaman kelompok fitoremediator harus diterapkan di daerah dengan kondisi perairan yang tercemar. Kelompok tumbuhan ini mampu mengambil zat-zat pencemar dalam air dan mengakumulasi dalam tubuhnya. Misalkan saja eceng gondok atau Eichhornia crassipes, yang mampu menyerap logam merkuri pada perairan. Logam akan diserap pada bagian tangkai daun, dan biasanya memiliki ciri tersendiri ketika eceng gondok telah mengandung merkuri. Setelah tumbuhan terindikasi mengandung merkuri, bisa diupayakan proses ekstraksi, sehingga merkuri dapat dikumpulkan dan didaur ulang kembali.
Seperti itulah kira-kira pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia. Beberapa solusi mungkin sudah diuraikan sebelumnya. Akan tetapi, kunci kesuksesan semua pelaksanaan tetap ada pada diri kita untuk memahami bahwa kita adalah bagian dari lingkungan. Jika lingkungan kita rusak, maka kita sendiri yang akan mendapatkan akibatnya. Mulailah dengan diri sendiri, tak usah menunggu orang lain menyuruh atau bencana memeringatkan kita semua.
Buanglah sampah pada tempatnya. Gunakan kendaraan kalau benar-benar penting. Dan hematlah air untuk generasi masa depan. Salam Lestari! Salam Konservasi!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar